Balar Bali Gelar Desiminasi Ekskavasi Situs Doro Mpana
Cari Berita

Iklan 970x90px

Balar Bali Gelar Desiminasi Ekskavasi Situs Doro Mpana

Tuesday, September 18, 2018

Dompu, Lensa Post NTB - Balai Arkeologi Bali (dulu bernama Balai Arkeologi Denpasar) melaksanakan Desimimasi dalam rangka ekskavasi (penggalian) situs Doro Mpana. Kegiatan desiminasi digelar di ruang rapat Kantor Kelurahan Kandai Satu Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Bali (antara lain Eka Juliawati, Nyoman Rema, Luh Swita Utami, AA. Gede Bagus,  dan Atik Ratih Hidayah), Sony Wibisono, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), tokoh masyarakat Kandai Satu, para pegiat budaya Bumi Nggahi Rawi Pahu, dan para siswa SMPN 7 Dompu.

Kegiatan yang dipandu oleh Lurah Kandai Satu, Dedy Arsyik, S. Sos itu dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat sekaligus menggali informasi dari masyarakat mengenai keberadaan benda-benda purbakala di kawasan situs Doro Mpana dan sekitarnya.

Ketua Tim Peneliti dari Balar Bali, Eka Juliawati menerangkan dalam proses ekskavasi yang sudah dilaksanakan beberapa hari ini, pihaknya telah menemukan sejumlah pecahan-pecahan gerabah dan keramik yang ada di lokasi tersebut. Selain itu, ada pula penemuan-penemuan masyarakat sekitar yang berhasil dikumpulkan. "Benda-benda tersebut kemungkinan pada masa Dinasti Shung dan Dinasti Ming," ungkap Eka. Lebih lanjut ia mengatakan proses ekskavasi masih  dilanjutkan guna menemukan bukti-bukti sejarah yang lebih menguatkan keberadaan Kandai Satu sebagai pusat kerajaan pra Islam. "Apakah Kandai Satu ini merupakan pusat Kerajaan Dompu masih perlu kita melakukan penelitian," paparnya. Mantan Kepala Desa (Lurah) Kandai Satu periode 1980-1991, H. Nurdin Abdullah mengungkapkan pada era tahun 60-an di lokasi tersebut banyak ditemukan cincin, hulu keris bahkan emas serta batu-batu dimpa dan batu-bata di lokasi tersebut. Seorang tokoh masyarakat lainnya juga mengungkapkan banyak benda-benda bernilai sejarah yang ditemukan oleh masyarakat setempat, namun diambil oleh pihak tak bertanggung jawab sehingga tak diketahui lagi keberadaannya. Bahkan ada juga yang menjualnya. Karena itu, sesepuh tersebut berharap agar pemerintah mewujudkan pembangunan museum untuk mengamankan benda-benda bersejarah itu. "Kalau ada museum, benda-benda itu dapat diselamatkan," tutupnya sembari berharap. (LP.NTB/ EMO)