Budayawan Ir. Nurhaidah Ungkap Fakta Sejarah Dompu Masa Lampau
Cari Berita

Iklan 970x90px

Budayawan Ir. Nurhaidah Ungkap Fakta Sejarah Dompu Masa Lampau

Tuesday, September 18, 2018

Dompu, Lensa Post NTB - Budayawan Dompu Ir. Nurhaidah mengungkapkan beberapa hal yang berhubungan dengan sejarah Dompu pada masa lampau. Hal itu disampaikannya pada acara Desiminasi Ekskavasi Situs Doro Mpana oleh Balai Arkeologi Bali yang dihelat di aula Kantor Kelurahan Kandai Satu Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu, Senin (17/9).

Putri budayawan almarhum Israil M. Saleh ini menerangkan bahwa ibunda Sultan Dompu berasal dari Kendari (Sulawesi Tenggara) sehingga semula diberi nama Istana Bata akhirnya diganti menjadi Kendari, lalu berubah menjadi Kendai dan selanjutnya mengalami perubahan menjadi Kandai Satu.

Dae Dau, panggilan familiar budayawan ini menerangkan pula bahwa Islam masuk di Dompu bukan dari Gowa dan Bima karena berdasarkan catatan sejarah, Kerajaan Bima berubah menjadi Kesultanan pada tahun 1612. Sedangkan Kerajaan  Dompu menjadi Kesultanan Dompu lebih dahulu yakni tahun 1545 dengan Sultan yang pertama adalah Sultan Syamsuddin Ma Wa-a Tunggu (1545-1590).

"Islam masuk di Dompu dibawa langsung oleh Syekh dari Arab yang datang sambil berdagang," ungkapnya.

Dae Dau selanjutnya mengungkapkan pula bahwa ada 5 Sultan Dompu yang dimakamkan di Kandai Satu yakni

Sultan Pertama Sultan Syamsuddin (Ma Wa-a Tunggu), Sultan kedua  Jamaluddin (mendapat gelar Manuru Dorongao karena dimakamkan di Dorongao), Sultan ketiga Sirajuddin (Manuru Bata), Sultan kelima Abdul Rasul I (Manuru Laju) dan

Sultan ketujuh belas : Abdul Rasul II (Ma Wa-a Bata Baharu/Bou). "Sultan Abdul Rasul II adalah yang memindahkan istana kesultanan dari Kandai satu ke seberang sungai setelah letusan gunung Tambora. Makanya gelar anumerta beliau Ma Wa-a Bata Bou. Istana baru (bata bou) itu adalah di lokasi Masjid Raya sekarang yang kemudian dibongkar oleh Nipon Jepang. Makam Sultan Abdul Rasul II adalah di depan Kantor Kelurahan Kandai Satu ini," urainya.

Sedangkan Sultan Abdul Hamid Ahmad (sultan yang keempat),  karena adanya pergolakan politik awal penguasaan oleh Belanda,  terbunuh di Kilo, sesaat sepulangnya dari Makassar.  Makamnya di Malaju, Kilo.  "Itulah sebabnya gelar anumertanya Manuru Kilo," tutupnya. (LP.NTB/ EMO)