Gabungan Organisasi Mahasiswa Mataram, Demo Hari Tani
Cari Berita

Iklan 970x90px

Gabungan Organisasi Mahasiswa Mataram, Demo Hari Tani

Tuesday, September 25, 2018


Mataram, Lensa Post  NTB  - Ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Pejuang Rakyat (APARAT) yakni HMI MPO cabang Mataram, LMND cabang Mataram sampai organisasi peguyuban daerah diantaranya IKMAL-Mataram, IMAM-Mataram dan IMPM-mataram, senin (24/9/2018) menggelar unjuk rasa Hari Tani didepan kantor DPRD NTB dan kantor Dinas Pertanian NTB.
Jeck, salah satu aktivis HMI MPO dalam orasi politiknya menyampaikan, bahwa  indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya baik itu mineral, batu bara, hasil tambang bahkan hasil pertaniannya. sehingga indonesia dikatakan negeri agraris, namun sungguh ironis bangsa yang Rakyatnya mayoritas petani yang bersandarkan hidupnya dengan tanah dan hasil pertanian hari ini melarat dan menderita di negeri yang subur ini. Bagaimana tidak,  hasil pertanian seperti bawang, jagung, kedelai dan beras yang seharusnya dari hasil itu dapat mencukupi kebutuhan rakyat indonesia, akan tetapi nasib rakyat tidak diperhatikan oleh pemerintah dengan lebih mementingkan produksi pertanian luar yang hadir melalui impor, ujar Jeck dengan tegas. Jeck menambahkan Harga bawang yang terjadi di kabupaten Bima hari ini menurun drastis sampai angka Rp. 4000/kg di samping itu harga obat-obatan pertanian yang semakin mahal sehingga petani-petani bawang makin di rugikan. Bahkan hasil yang didapat oleh petani bawang tidak sepadan dengan modal yang di keluarkan.

Senada juga disampaikan, Saiful Bahri, selaku ketua HMI MPO Cabang Mataram mempertegas melemahnya rupiah hari ini memberikan efek Domino yang sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi negara, dan akibatnya ketidakstabilan ekonomi di negara ini, suatu hal yang tidak terbantahkan lagi, dan kami menyatakan sikap dan mendesak agar jokowi-Jk selaku pimpinan negara segera mangambil langkah kongkrit untuk menstabilkan nilai tukar rupiah hari ini.

Sementara itu, Parlan selaku ketua Cabang LMND berkomentar bahwa konflik agraria yang terjadi di indonesia semakin hari semakin marak terjadi, konflik agraria yang terjadi di lombok tercatat ada 420 kasus yang belum terselesaikan salah satunya, PT. Sadana Arif Nusa, dimana ada 160 kepala keluarga tersingkirkan dari lahan pertanianya di desa sananggali kecamatan Sembelia Lombok Timur. Dan banyak lagi masyarakat yang mengalami tindakan resprensif oleh aparat negara atas perjuangan mereka dalam mempertahankan tanah yang di rampas oleh para investor. Ini artinya pemerintah tidak serius menjalankan UU PA No. 5 tahun 1960, tutupnya. Pada kesempatan itu massa aksipun menyatakan sikap dengan 8 poin tuntutan yang bisa disimpulkan, bahwa mendesak pemerintah agar segera menyelesaikan konflik reforma agraria dan menstabilkan nilai tukar rupiah. (LP.NTB/ Den26)