Mas Pur : Tai Is Money
Cari Berita

Iklan 970x90px

Mas Pur : Tai Is Money

Saturday, October 20, 2018


Dompu, Lensa Post NTB - Ungkapan dalam bahasa Inggris "Time Is Money" yang berarti "Waktu Adalah Uang" mungkin tidak lagi terdengar asing. Kalimat itu menunjukkan agar kita menghargai waktu. Betapa berharganya sang waktu yang terus merangkak maju dan tidak akan pernah kembali . Akan tetapi ungkapan "Tai Is Money" (kotoran manusia adalah uang) bukan hanya asing didengar telinga tetapi juga sangat aneh dan bahkan menjijikkan. Tetapi itulah fakta yang dialami oleh Rudi Purtomo, pria asal Desa Lepadi Kecamatan Pajo Kabupaten Dompu.

Tai (kotoran) manusia mendatangkan pundi-pundi uang baginya. Mungkinkah kotoran manusia bisa menjadi uang ? Itulah realita hidup yang dijalani oleh PNS di Kecamatan Hu'u ini. Dalam beberapa tahun belakangan ini, pria ganteng yang biasa disapa Mas Pur ini menggeluti usaha pembuatan jamban untuk dijual terutama kepada warga golongan ekonomi menengah ke bawah. Harga jamban yang Ia jual tergolong sangat murah bahkan bisa dibayar secara kredit sekaligus sampai pemasangan di rumah-rumah warga. Sebutan "Kreditur Jamban" akhirnya melekat pada tokoh muda energik ini.  Walhasil telah ribuan jamban terpasang di rumah-rumah warga tak mampu di desa-desa di seluruh kecamatan di Kabupaten Dompu ini. "Sudah ada sekitar 4 ribu jamban yang telah terpasang di rumah-rumah warga tak mampu," ungkapnya saat menjadi narasumber dalam acara Konferensi Sanitasi dan Air Minum yang dihelat di Gedung PKK Dompu, Kamis (18/10).

Rudi Purtomo selalu merasa tak nyaman bila melihat masih ada warga yang melakukan buang hajat sembarangan apalagi di sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci bagi masyarakat umum. Karena itu, ia menawarkan solusi kepada para Kepala Desa untuk dilakukan pemasangan jamban di rumah-rumah warga yang belum memiliki WC. "Saya siap melakukan pemasangan walaupun sistemnya cola kento (bayar belakangan) asalkan sudah dianggarkan dalam APBDes," ujarnya. Apalagi, lanjutnya pemerintah Kabupaten Dompu berkomitmen untuk mewujudkan 5 (lima) pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di semua desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Dompu hingga akhir masa jabatan Bupati Dompu tahun 2021. 

Usaha pembuatan jamban yang dikelolanya dalam lembaga yang bernama Forum Pengusaha Sanitasi (ForPaS) ini, bukan hanya di Kabupaten Dompu, tetapi juga sudah merambah kabupaten lain di Pulau Sumbawa bahkan sampai di Kabupaten Lembata NTT. Tidaklah heran, bila ia mendapat penghargaan AMPL Award 2017 dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro pada acara Konferensi Sanitasi dan Air Minum yang dihelat di Hotel Le Meridian Jakarta, Selasa, 7 November 2017 lalu.  Direktur ForPaS ini menuturkan saat ini pihaknya juga sedang melakukan pembuatan jamban kerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabupaten Dompu dari dana APBD II, dan dengan BadannAmil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Dompu dari dana zakat serta dana CSR dari PT STM. "Saya benar-benar serius untuk menjadi "pengemis" bagi org-orang miskin  terutama yang belum punya jamban atau masih BABS. Alhamdulillah hasil "ngemis" saya, ya dapat dari Baznas, CSR, Dana Desa, dan lain-lain. Dan sampai hari ini, besok, dan seterusnya, saya tetap akan menjadi "pengemis" sejauh masih banyak warga miskin yang belum punya jamban," pungkasnya. (LP.NTB/ EMO