Tentara Datang Redakan Karakter Keras Orang Bima
Cari Berita

Iklan 970x90px

Tentara Datang Redakan Karakter Keras Orang Bima

Thursday, November 15, 2018


Lambu Bima, Lensa Pos - Setelah puluhan tahun tinggal di Bima, seorang anggota TNI AD mengaku bahwa kalau tidak ada keributan di Bima rasanya “kurang seni”. Pernyataan ini mengungkap fakta bahwa orang Bima sudah terbiasa dengan keributan. Yang dimaksud dengan orang Bima di sini adalah mereka yang berasal dari seluruh wilayah kota dan kabupaten Bima. Bentrok atau keributan antar warga nyatanya memang sering kali terjadi, baik di wilayah kota maupun kabupaten. Bentrokan yang terjadi bisa melibatkan puluhan hingga ratusan orang. Bentrokan antar warga umumnya terjadi akibat adanya dendam lama. Persoalan yang sudah bertahun-tahun terpendam bisa seketika muncul. Dalam banyak kesempatan dendam atau luka lama itu akan terbuka saat ada hiburan organ tunggal. Diawali dengan cekcok mulut, saling klaim, lalu terjadilah adu parang dan jatuh korban. Demikian seterusnya hingga melahirkan dendam-dendam baru.
Dalam skala lain, aksi kekerasan dalam bentuk penolakan terhadap sebuah perusahaan tambang emas yang hendak masuk di Kecamatan Lambu dan Sape adalah contoh terbesar yang sudah menjadi perhatian nasional pada tahun 2011 lalu. Saat itu terjadi aksi-aksi pengrusakan dan pembakaran terhadap fasilitas pribadi dan instansi yang dianggap mendukung keberadaan perusahaan tambang tersebut. Kantor Kecamatan, Kantor Polsek, bahkan Kantor Bupati dirusak dan dibakar. Kodim 1608 Bima beserta para pimpinan kota dan kabupaten terus berupaya untuk mengatasi bentrokan yang bisa dibilang sudah menjadi kebiasaan tersebut. Nyatanya, orang Bima bisa menerima pendekatan secara halus, lebih manusiawi. Datang, duduk dan bicara bersama orang Bima yang dikenal keras bukanlah hal yang mustahil. Pada tahun 2018 ini Kodim 1608 mendapatkan momentum untuk berada lebih dekat lagi dengan mayarakat Bima, khususnya di Kecamatan Lambu. Itu terwujud dalam progam TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 103. Desa Lambu dan Soro dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program yang mengambil tema “TNI Manunggal Membangun Desa yang Maju, Sejahtera dan Demokratis”. Program yang tengah berlangsung ini ditutup pada 13 November.

Kegiatan TMMD 103 sebagai wujud kehadiran TNI

Kedua desa yang termasuk dalam Kecamatan Lambu ini terletak di ujung timur pulau Sumbawa. Lokasi ini dapat ditempuh sekitar satu setengah jam perjalanan dari kota Bima. Jalan yang menanjak kerap ditemui. Semakin dekat dengan lokasi akan terlihat garis pantai dengan jejeran pohon kelapa. Desa Lambu, yang menjadi pusat kegiatan TMMD, dapat dicapai setelah melewati wilayah Desa Soro. Kodim 1608 Bima bersama dengan pimpinan Pemerintahan Kabupaten Bima menentukan program fisik pada pembukaan jalan sepanjang 3,2 km dan lebar sekitar 5 meter dari Desa Lambu ke Desa Nggelu. Lalu ada renovasi Masjid Arrahman di Desa Lambu dan Musholla Nurul Taufik di Desa Soro, juga pembuatan tempat pembuangan sampah di Desa Soro. Yang juga tidak dilupakan adalah pembangunan Pos Kamling di kedua desa tersebut.

Pada Senin lalu (5/11) Komandan SSK TMMD 103 Kodim 1608, Kapt. Inf. Junaid mengatakan bahwa program yang hampir rampung ini lebih banyak dilakukan di Desa Lambu. Pembukaan jalan sepanjang 3,2 km telah selesai dilakukan. Renovasi masjid dan pembangunan dua unit Pos Kamling pun telah memasuki tahap akhir. Sementara itu di Desa Soro yang menjadi pintu masuk menuju Desa Lambu dan terletak di kota kecamatan, pengerjaan renovasi masjid dan pembangunan Pos Kamling sudah tuntas dilaksanakan. M. Kasim (47), Kepala Desa Lambu, bersyukur atas kehadiran TNI di tengah warga desanya yang berjumlah 1800 jiwa dengan 700 Kepala Keluarga. Warga Desa Lambu sendiri bermata pencaharian sebagai petani bawang, jagung, dan kacang.“Desa kami letaknya paling ujung timur, tapi TNI tetap mau datang”, sebut M. Kasim seraya mengucapkan terima kasih kepada TNI yang mau tinggal bersama warga selama program berlangsung.

Jalan sepanjang 3,2 km yang telah dibuka dan segera dapat digunakan itu amat bermanfaat bagi warga dalam mendistribusikan hasil kebun mereka. Desa Lambu sendiri terkenal sebagai penghasil bawang merah dengan kualitas yang baik. Bagi warga Desa Nggelu, jalan ini juga bermanfaat dalam menghemat waktu perjalanan menuju pusat kota kecamatan. Antusiasme warga untuk terlibat dalam proses pengerjaan fisik turut menentukan keberhasilan program ini. “Di sini ada sembilan RT, setiap hari satu RT secara bergantian (bekerja bersama satgas)”, ujar M. Kasim. Tidak heran jika setiap harinya ada puluhan warga yang turut berjibaku bersama satgas TNI dalam pekerjaan fisik di desanya ini. Selain pekerjaan fisik, TMMD 103 di Desa Lambu ini juga mengadakan kegiatan non fisik berupa penyuluhan di berbagai bidang, seperti wawasan kebangsaan, kesehatan, bahaya narkoba, ekonomi dan perbankan, ketahanan pangan, kebudayaan dan pariwisata, hukum, juga pemutaran film tentang Keluarga Berencana dan kisah perjuangan.

Tabligh Akbar : Cara religius meredam konflik

Mengenai tingginya minat warga desa untuk terlibat dalam program ini juga dipengaruhi oleh satu faktor penentu, yakni rasa segan, hormat orang Bima kepada TNI. Sikap seperti ini diamini oleh berbagai kalangan masyarakat di Bima. Sikap ini juga kerap ditunjukkan dalam berbagai kegiatan, bahkan dalam peristiwa bentrokan atau keributan. Pada banyak peristiwa bentrokan, kehadiran anggota TNI dapat meredam suasana yang sudah panas. Sikap warga desa (orang Bima) seperti di atas menjadi satu nilai lebih bagi TNI untuk semakin mempererat kemanunggalannya dengan rakyat. Sebuah contoh yakni ajakan untuk menggelar Tabligh Akbar sebagai peredam aksi bentrokan para pemuda di sekitar Kecamatan Sape dan Lambu. Tabligh Akbar ini dibuat di Masjid Jami Arrahman, Desa Rai Oi, Sape pada Sabtu malam (20/10/2018). Tema yang diusung adalah “Mewujudkan Generasi Muda Berkarakter, Beriman dan Bertakwa Menuju Desa yang Maju Sejahtera dan Demokratis”.
Kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di tengah kesibukan program TMMD 103 ini dapat diterima dengan baik dan dihadiri oleh ratusan masyarakat Sape dan Lambu. Dengan mengutip Surat Al-Asr, Dandim Letkol Inf. Bambang Kurnia Eka Putra mengajak warga untuk menatap masa depan dengan mengambil pelajaran dari masa lalu. Apa yang tidak baik pada masa lalu patut dilupakan. Sementara itu Ustadz Adnin SQ, MPd menegaskan bahwa generasi muda saat ini butuh bimbingan, butuh silaturrahim, dan saling mengingatkan demi sukses di masa depan. Pada akhir acara, para perwakilan pengurus karang taruna se-kecamatan mengucapkan ikrar kebangsaan.

Kemah Bela Negara : Perhatian Pada Generasi Muda Bima

Satu kegiatan lain yang juga dilakukan dalam rangka TMMD 103 ini adalah mengadakan Kemah Bela Negara bagi para pramuka di Bima. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Kwartir Pramuka Cabang Bima (Kwarcab Bima) dengan Kodim 1608 Bima. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 10-13 November 2018 di Bumi Perkemahan Kuwu Ruma, Lambu. Penutupan Kemah Bela Negara ini rencananya akan digabungkan dengan penutupan Program TMMD 103 di Lapangan Desa Lambu pada 13 November mendatang. Ada sekitar 800 orang peserta dari tingkat penggalang dan penegak yang berasal dari sekolah menengah (SMP dan SMU) di seluruh Bima. Kemah Bela Negara ini dilangsungkan dengan tema “Kami Pramuka Siap Menjadi Generasi Muda Yang Berkarakter Guna Mewujudkan Masyarakat Sejahtera, Maju dan Demokratis”. Tema ini sejalan dengan tema program TMMD 103.
Sertu Agus Budi, salah satu instruktur Kodim 1608, menguraikan materi yang akan disajikan dalam kegiatan ini. Materinya berupa pengetahuan tentang TNI AD, bela negara dan wawasan kebangsaan, pencegahan paham radikalisme, pengenalan navigasi darat, juga teknik-teknik survival serta teknik pedakian gunung. Mengenai pencegahan paham radikalisme akan disajikan langsung oleh perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Bermacam materi di atas diberikan dengan tujuan agar para peserta memiliki kemampuan sebagai penerus bangsa, menjadi komponen dalam bela negara dan pembangunan nasional sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai warga Bima dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pembinaan sejak usia remaja ini penting untuk membentuk generasi penerus yang lebih siap mengahadapi beragam persoalan di masa mendatang. Kemah Bela Negara ini dilihat sebagai salah satu wujud kepedulian Kodim 1608 kepada generasi muda Bima. Masa depan Bima ada di tangan generasi muda ini. Karakter keras orang Bima akan tetap ada, juga dimiliki oleh generasi muda ini. Sekarang tinggal bagaimana menyalurkan karakter itu dalam wadah yang benar agar hasilnya menjadi baik bagi semua. Dan TNI AD melalui Kodim 1608 Bima menemukan wadah itu dalam kegiatan TMMD, Tabligh Akbar, dan Kemah Bela Negara. (LP.NTB/ TMMD)