Bima dan Petani, Butuh Nahkoda yang Mengerti
Cari Berita

Iklan 970x90px

Bima dan Petani, Butuh Nahkoda yang Mengerti

Monday, July 20, 2020

Opini Penulis: Nurdin S.Pd
Pimred Media Mimbar-NTB.

Bima, Media Info Bima Online - Memimpin suatu daerah memang tak semudah membalikan telapak tangan. Dibutuhkan figur yang mengerti akan kultur dan budaya masyarakatnya. Juga didukung dengan ilmu pengetahuan mempuni serta rekam jejak yang sudah teruji. Minggu, (20/07/2020).

Dengan kemampuan dimiliki tersebut itulah menjadi modal utama bagi seorang calon pemimpin yang punya hasrat untuk menahkodai suatu wilayah, dengan syarat harus konsisten dan berprinsip dalam menjalankan amanah rakyat.

Berbicara pemimpin tentu tak lepas dari kontestasi. Di Provinsi NTB sendiri ada tujuh Kabupaten/Kota yang melaksanakan Pilkada serentak pada Desember 2020 mendatang. Namun penulis lebih detail membahas Bima sehingga korelasi dengan isi tulisan.

Daerah Kabupaten Bima memilki luas sekitar 438.940 Ha dengan jumlah penduduk kurang lebih sekira 478.967 Jiwa di 18 Kecamatan dan 191 Desa. Wilayah yang dikenal dengan "DANA MBARI" ini dihimpit oleh laut flores, selatan Samudra Hindia, Timur selat Sape dan sebelah Barat Wilayah Dompu.

Bima dikenal dengan sumber daya alam yang melimpah ruah dan hasil produksi pertanian yang berkualitas. Karna sebagain besar penduduknya berprofesi sebagai petani tulen. Bila dikalkulasikan kisaran angka 60 persen.

Jika merujuk pada prosentase angka tersebut, maka bisa dipastikan sumber pendapatan ekonomi masyarakat Bima yakni dari hasil produk pertanian, baik Jagung, Padi, Bawang Merah-Putih, Garam dan lain sebagainya.

Maka, untuk menopang laju perekonomian rakyat ini, dibutuhkan racikan strategi dan menagemen seorang pemimpin daerah. Agar potensi sumber daya alam dapat dikelola dengan baik. Yang utama adalah memperioritaskan kebutuhan para petani. Mulai dari sektor pengairan, akses jalan, bibit, harga jual dan lain lain.

Sebab masyarakat petani merupakan salah satu roda penggerak pembangunan daerah. Oleh karna itu, jika ingin membangun Bima, maka tugas utama pemimpin harus perhatikan nasib petani.

Kembali soal calon pemimpin, dari sekian banyak figur yang menawarkan diri untuk membangun Bima, hanya ada satu pasangan Bapaslon yang diyakini penulis mengerti dan mampu mengimplementasikan harapan para petani di Bima. Pasangan itu yakni H. Syafrudin dan Ady Mahyudi (SYAFA'AD) dengan slogan perubahan.

Alasan penulis menyakini SYAFA'AD bukan tanpa dasar. Sebab, dilihat dari program yang ditawarkan sekian Bapaslon, hanya program SYAFA'AD yang lebih mengunggulkan dan memprioritaskan kebutuhan petani serta memperhatikan nasib Kabupaten Bima lima tahun ke depan.

Beberapa diantaranya yakni:  Menggenjot produksifitas pertanian dan harga jual hasil tani. Khusus Petani Garam, diberikan bantuan alat untuk kebutuhan petani garam, seperti tarpal, mesin untuk pengelola garam dan menjamin stabilitas harga.

Para nelayan jadi prioritas pasangan SYAFA'AD. Mereka berkomitmen dan keinginan yang kuat untuk membangun desa-desa nelayan mandiri terintegrasi dan mengembangkan industri perikanan, sehingga Kabupaten Bima tidak saja dijadikan pusat penangkapan ikan, melainkan pusat industri pengolahan perikanan dapat diperioritaskan.

Di sektor Pariwisata, SYAFA'AD akan berkonsentrasi penuh dalam mengelola dan memnafaatkan keindahan alam Bima. Membangun akses dan membuka ruang serta menjamin keselamatan para wisatawan baik lokal maupun manca negara.

Selain itu, jawaban pendukung lainnya adalah rekam jejak H. Syafrudin saat menjabat sebagai Bupati Bima selama 1,8 tahun pada 2014 silam sudah teruji. Hampir kebutuhan dan keluhan para perani terpenuhi. Mulai dari soal pupuk bersubsidi, sejumlah bibit tersalurkan dengan baik hingga pada tingkat harga hasil tani yang mampu distabilkan. (Usman).