Sangat Perihatin, Kondisi Guru dan Bangunan SDN Tambora Tidak Diperhatikan
Cari Berita

Iklan 970x90px

Sangat Perihatin, Kondisi Guru dan Bangunan SDN Tambora Tidak Diperhatikan

Tuesday, August 18, 2020

Bangunan SDN Tambora dan Guru Butuh Perhatian Pemerintah
Bima, Info Bima - Salah satu SDN Tambora yang terletak di Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, NTB, sangat memperhatikan, pasalnya, bangunan sekolah ini kini sudah mulai retak termakan usia akibat tidak pernah diperbaiki, dan para guru pendidik mengeluh lantaran tidak diperhatikan.

Sejak puluhan tahun dibangun  hingga saat ini SDN Tambora dibiarkan tanpa pengawasan. Unsur Dinas terkait yang diharapkan dapat memberikan bimbingan tidak sekalipun nampak dalam memantau perkembangan yang ada di Sekolah tersebut, Ironisnya, ketika para mahasiswa yang tergabung dalam Pendaki Indonesia Korwil Bima Dompu bersama Organisasi Sosial Berbagi dan Mapala Peternakan UNRAM berkunjung ke sekolah tersebut beberapa hari lalu, mereka terkejut saat pertamanya mereka lihat tiang bendera yang biasa nampak berdiri kokoh di halam sekolah seperti di sekolah pada umumnya, justru tidak terlihat di sekolah ini, dan mereka santai saja karena tidak ada yang menegur.

Di Sekolah hanya memiliki satu orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) selaku Kepala Sekolah dan 6 orang tenaga pendidik, kemudian memiliki 50 sekian orang siswa.
Salah seorang guru dari SDN Tambora Sugeng Purnomo yang diwawancarai menuturkan, dirinya mengakui bahwa pemerintah terkait tidak pernah memberikan upaya khusus buat para tenaga honorer yang mengajar di SDN Tambora, secara menurutnya, SDN Tambora ini merupakan sekolah yang paling terpencil yang ada di Kabupaten Bima yang seharusnya mereka layak mendapat perhatian khusus dari pemerintah terkait.

"Kita hanya mendapat bagian melalui Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saja, dan BOS ini juga yang didapat melalui data Dapodik yang disesuaikan dengan jumlah siswa" pungkasnya.

Ungkapan hati dilontarkan Sugen sebagai seorang guru yang memiki tanggungjawab yang besar dalam mendidik siswanya, dirinya mengaku berat hati ketika ia harus mempertimbangkan untuk memilih tetap mengajar penuh selama satu Minggu sebagai bentuk tanggungjawab seorang guru, atau memilih berkeja sampingan untuk mencukupi kebutuhan perut.

"Ada dua hal yang menjanggal di hati kami sebagai guru di SDN Tambora ini, misalnya, mau tidak terus menerus mengajar itu tanggungjawab, tapi kita terus mengajar dari mulai Senin sampai Sabtu kemungkinan kebutuhan perut juga jadi hambatan, jadi bingun kita" ungkapnya.

Masih disampaikan Sugeng, dirinya berharap supaya pemerintah terkait dapat memperhatikan kesejahteraan guru yang mengajar di SDN Tambora, meskipun menjadi PNS jauh dari harapan, namun setidaknya Pemerintah dapat memberikan tunjangan untuk menopang kesejahteraan Guru yang di SDN Tambora.(IB.Din)