H. SYAFRU Nggusu Waru Putra Asli Bima/Mbojo.
Cari Berita

Iklan 970x90px

H. SYAFRU Nggusu Waru Putra Asli Bima/Mbojo.

Saturday, September 19, 2020

Foto : Drs. H. Syafrudin HM. Nur, M. Pd.MM. Bakal Calon Bupati Bima, Periode 2020-2025.


Oleh: Usman, Abdul Chair, S. Pd.


Bima, Media Info Bima Online - Kemunculan Drs. H. Syafrudin HM. Nur, M.Pd.MM dalam kontestasi Pilkada Kabupaten Bima merupakan angin segar bagi masyarakat Kabupaten Bima, sebab selama ini hampir 5 tahun terakhir kepemimpinan hanya berkutat pada kelompok itu-itu saja dan tidak membawa perubahan yang berarti.


Sebagai Bakal Calon Bupati Bima, H. Syafrudin memenuhi syarat-syarat sebagai pemimpin yang dapat bertindak sebagai ulama sekaligus umara. Dalam tradisi Bima terdapat falsafah luhur tentang kriteria ideal seorang pemimpin yang dikenal dengan istilah Falsafah Nggusu Waru (falsafah delapan sudut), falsafah tersebut antara lain:


1. *Ma toâ ˇRuma laþo Rasu* (yang taat kepada`Allah dan Rasul), sikap taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW pada pribadi H. Syafru adalah akibat didikan keluarganya yang taat agama, sehingga tidak mengherankan H. Syafru disela-sela aktivitasnya sebagai Pengusaha juga bertindak sebagai Politisi senior di Kabupaten Bima.


2. *Ma loa ro bade* (yang pandai dan cerdas), nilai falsafah yang kedua ini sangat penting terkait dengan upayanya menjadi calon kepala daerah, sebab kebijakan-kebijakan yang akan diambil berdampak pada kepentingan umum. Oleh karena itu pandai dan cerdas adalah prasyarat agar penyusunan visi-misi yang kemudian diterjemahkan pada program kerja dapat dijalankan dengan baik serta ada kontrol terhadap kebijakan yang telah dilakukan. Sebagai Magister Pendidikan dan Magister Mejenemen tentu secara intelektual beliau memenuhi bahkan melampui persyaratan tersebut.


3. *Ma ntiri nggahi kalampa* (jujur dalam kata dan perbuatan) dan Ma poda nggahi ro paresa (yang mampu menegakkan kebenaran). Falsafah ini telah dijalankan oleh H. Syafru dalam kehidupan sehari-hari, sebagai seorang Pedagag, Politik beliau melayani sepenuh hati. Terhadap masyarakat tidak mampu dengan tujuan agar dapat bermanfaat bagi sesama manusia.


4. *Ma mbani ro disa* (berani dan bertanggungjawab), falsafah ini juga tepat disematkan pada H. Syafru karena beliau ketika melihat adanya ketidakberesan atas suatu permasalahan maka segera diperbaiki, jika tidak beliau tidak segan mengambil sikap tegas, suatu hal yang sulit ditemukan untuk era saat ini dimana jabatan harus dipertahankan mati-matian. 


5. *Matenggo ro wale* (sehat jasmani dan rohani), sebagai Politisi, beliau sehat secara jasmani dan rohani, selain itu pengalamannya sebagai Dosen, Anggota DPRD dua Periode, Wakil Bupati Bima 3 tahun 6, dan 1 tahun 6 Bulan akan mampu diterjemahkan dalam bentuk kebijakan dalam Pemerintahan untuk masyarakat Kabupaten Bima.


6. *Mabisa ro guna* (berwibawa dan sakti), Pemimpin yang beriman, berwawasan luas, jujur, cinta kebenaran (adil), dan bertanggung jawab akan menjadi sosok yang berwibawa. Kewibawaan adalah pancaran dari sifat baik yang bersumber dari dalam diri pemimpin.


7. *Londo dou taho* (keturunan orang baik-baik) Makna falsafah ini mengandung arti bahwa moralitas seseorang itu dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga, Seorang pemimpin yang bermoral baik, akan membawa masyarakat yang dipimpinnya ke arah berpikir dan berbuat baik, bukan mengajak untuk memanipulasi dan menipu orang lain untuk mempertahankan kekuasaan.


8. *Mantau ro Wara* (Orang kaya)

Dalam falsafah Bima kaya yang dimaksud, bukan hanya kaya kebendaan atau kaya secara materi saja tetapi juga memiliki kekayaan rohani atau Kaya hati.


Dari rangkaian deskripsi terhadap sosok Drs. H. Syafrudin HM. Nur, M.Pd.MM, maka kiranya kemajuan Bima akan terwujud karena didalam dirinya memenuhi kriteria falsafah nggusu waru sebagai seorang pemimpin. Sekarang semuanya kembali kepada masyarakat mbojo, apakah menginginkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik atau masih berkutat pada kondisi sebagaimana saat ini. *Wallahu a’alam*. (TIM IB).