Polisi Masih Menunggu Hasil Visum Korban. Kasus Pencabulan oleh Kakek Tiri di Hu,u
Cari Berita

Iklan 970x90px

Polisi Masih Menunggu Hasil Visum Korban. Kasus Pencabulan oleh Kakek Tiri di Hu,u

Wednesday, October 7, 2020

 

Kasat Reskrim Polres Dompu IPTU Ivand Roland Cristofel, STK.

Dompu, Infobima.com - Kasus pencabulan yang dilakukan seorang kakek AS 62 tahun terhadap cucu tirinya Bungan 13 tahun (nama samaran) yang pernah menghebohkan masyarakat kecamatan Hu,u, Kabupaten Dompu beberapa hari lalu, hingga kini kasus tersebut masih pada tahap penyelidikan oleh Polisi melaui bagian Reskrim Polres Dompu.  


Kasus ini Polisi masih menunggu hasil visum dari korban untuk melengkapi bahan pelaporan.

"Kita masih menunggu hasil visumnya, seperti apa nantinya baru kita ambil tindakan" ungkap Kasat Reskrim Polres Dompu IPTU Ivand Roland Cristofel, STK yang ditemui di ruangannya pada  Rabu (7/10/20).


Sementara terduga pelaku AS (kakek tiri korban, red), kini telah diamankan ke Polres Dompu sambil menunggu penetapannya menjadi tersangka. Polisi juga masih mengumpulkan keterangan para saksi untuk bisa naikkan kasusnya pada tahap penyidikan.



"Kita masih mengumpulkan alat bukti terkait kasus ini. Ada beberapa saksi sudah kita ambil keterangan, Tapi kalau sudah memenuhi dua alat bukti kita langsung melakukan penahanan" pungkasnya.


Seperti yang diberitakan media ini sebelumnya. Korban (Bunga) mencerita kisah pilunya atas tindakan bejat yang dilakukan kakek tirinya itu. Kisah itu diceritakan Bungan berawal saat ia sedang tidur siang, namun tiba tiba Bunga tersadar (bangun dari tidur) karena merasakan ada yang meremas dan raba tubuhnya pada dibagian payudara dan alat kelaminnya. Bunga saat itu kaget, namun dia tidak berdaya karena kedua tangan bunga terlebih dahulu diikat oleh sang kakek, betapa terkejutnya Bunga saat ia membuka mata dan melihat sang kakek sudah berdiri dengan senjata tegang didepannya dalam keadaan telanjang bulat. 


Saat itu Bunga berusaha mencoba untuk berontak namun ia tak berdaya karena tangannya sudah dilumpuhkan oleh kakek. Disitu bunga diancam akan dibunuh jika tidak menuruti nafsu bejatnya, dan jika menceritakan perbuatannya itu ke orang lain.


Karena ancaman itu Bunga merasa takut dan pasrah sembari menangis dengan pelan.


Ketakutan Bunga dimanfaatkan pelaku untuk terus melampiaskan nafsu birahinya. Pelaku tidak sedikitpun mempunyai rasa iba atas isak tangis Bunga yang merasa takut dan kerap menjerit kesakitan, pelaku terus saja melancarkan aksi bejatnya menyetubuhi Bunga yang saat itu masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar.


Sejak saat itu Bunga terus dimanfaatkan oleh sang kakek, tindakan itu kini serasa mulus dilakukan karena bunga tidak lagi berontak untuk melayani kemauannya, karena ancaman akan dibunuh menjadi senjata ampuh untuk memuluskan aksinya, memanfaatkan ketakutan Bunga.(Din)