Ketika Nurani Berbicara Pada H. Syafru dan Ady Mahyudi.
Cari Berita

Iklan 970x90px

Ketika Nurani Berbicara Pada H. Syafru dan Ady Mahyudi.

Tuesday, November 10, 2020

 


Oleh : Delian Lubis.


Bima, Media Info Bima Online - Doa kita yang berempati pada perjuangan Drs. H. Syafrudin HM Nur.,M.Pd-Ady Mahyudi, SE. Paslon (SYAFA'AD) tetap terus digelindingkan. Kita menaruh harapan dan kepercayaan bahwa mereka berdua mewakili perasaan kita, pikiran kita, bahasa kita. Sadar dengan itu, kita ada dalam perjuangan mereka. H. Syafru-Ady Mahyudi kita jadikan jembatan titik temu segala keragaman, segala perbedaan. Mereka memenuhi prasyarat itu sehingga kita punya alasan kenapa mereka harus didukung dan diperjuangkan. 


Pengabdian tidak dibatasi oleh usia, perjuangan tidak dibatasi oleh waktu, kita ada dalam semangat itu bersama memenangkan H. Syafru-Ady Mahyudin untuk memenangkan masa depan manusia yang lebih baik, lebih maju, lebih beradab, dan lebih berkeadilan. H. Syafru-Ady Mahyudi ada dalam semangat itu. 


H. Syafru adalah simbol dan asosiasi perasaan orang tua kita dalam dimensi yang luas. Dia pernah menjadi pendidik pada perguruan tinggi sebagai dosen kopertis, pernah memimpin partai politik, pernah anggota DPRD, pernah Wakil Bupati, pernah menjadi penjabat Bupati, juga pengusaha sukses. Selain itu, beliau seorang putra Ulama Kampung bernama H. Yahya yang satu buku, satu bacaan, dengan Syekh Boe menjabarkan tasawuf dan ayat-ayat Tuhan dalam kehidupan bermasyarakat. Watak dan kepriadian H. Stafru terbina dan tertuntun dari ajaran dan kebiasaan Ayahnya seorang "Ulama Kampung". Tidak aneh  bila H. Syafru perangainya sabar dan sangat tidak punya bakat bersandiwara.


Pun Adi-Mahyudi tidak saja sebagai orang politik yang pernah sukses memimpin PAN memenangkan pemilu ditingkat Kabupaten, ia juga adalah darah saudagar yang demikian lama membangun relasi bisnis yang secara emosional lekat dengan moral kolektif orang-orang Desa. H. Syafru-Ady Mahyudi adalah tetangga kita, saudara kita, kawan kita yang setiap saat kita bisa jadikan rumah mereka adalah rumah kita. 



Kita menemukan sikap mereka yang egaliter, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. H. Syafru tidak terbiasa merendahkan orang dengan cara memberi tanpa alasan. Pun Ady Mahyudi juga sama seperti itu. Kewarasan-kewarasan itu yang musti kita kembalikan sebab meminta tanpa alasan dan karya adalah tradisi para pemalas. (Usman).