Kondisi Pandemi Hapuskan Pelaksanaan UN, Diganti Asesmen Nasional
Cari Berita

Iklan 970x90px

Kondisi Pandemi Hapuskan Pelaksanaan UN, Diganti Asesmen Nasional

Sunday, November 15, 2020

 

Kabid Dikdas, Dikpora Kabupaten Dompu Zainal Afrodi, S.Pd, MM


Dompu, Infobima.com - Diprediksikan, sampai tahun 2021 ke depan Kabupaten Dompu belum mampu kembali pada posisi normal untuk menghadapi Pandemi Covid-19. Dengan hal itu pula, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI menghapus pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang kemarin digantikan dengan Ujian  Berbasis Kompetisi Daring (UBKD) dan kini telah berubah nama menjadi Asesmen Nasional karena mengacu pada situasi Pandemi yang ada. Hal ini yang diungkapkan Kepala Bidan Pendidikan Dasar Dikdas, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Dompu Zainal Afrodi, S.Pd, MM saat berkunjung di Sekretariat MOI pada Minggu (15/11/20).


"Proses Asesmen ini sudah mulai gencar dilakukan uji coba - uji coba oleh pihak Panitia sekarang" ungkap Fery.


Pergantian Ujian Nasional (UN) dengan Asesmen Nasional oleh Kemendikbud akibat Pandemi Covid-19, diakui Kabid Dikdas bahwa masih banyak pihak yang belum mengetahui informasi itu.


"Jangankan komponen stakeholder orang tua wali murid (Masyarakat, red), ditingkat internal penyelenggara pendidikan saja belum sampai secara utuh informasi ini" Pungkasnya.


Namun, mengingat pelaksanaan ujian Asesmen Nasional yang berbasis komputer ini akan dilaksanakan, tentu pihak Dinas terkait akan banyak menyediakan perangkat lunak, seperti komputer ITE dan yang lainnya. Rupanya hal itu membuat kesulitan bagi Dinas Dikpora Kabupaten Dompu ( Bagian Pendidikan, red) mengingat anggaran dasar yang ada kini tidak lagi yang memadai untuk kebutuhan itu.


"Informasi yang saya dapat, ada 100 sekian miliar yang dipangkas di Dana DAUN. Ini juga akan berpengaruh pada Dinas Dikpora nanti, padahal satu sisi, Asesmen Nasional ini juga membutuhkan banyak perangkat itu" cetusnya.


Fery menilai, akan ada degradasi moral apabila proses daring ini berjalan lima sampai sepuluh tahun kedepan.

"Karena dalam pemahaman kami pendidikan itu ada dua hal yang penting, pengajaran dan pendidikan. Kalau mengajar itu bisa kita gunakan Google (Daring), tapi kalau mendidik anak itu tidak bisa menggunakan alat ITE karena harus guru murni yang melakukan, karena disana ada pesan-pesan moral yang disampaikan oleh gurunya, dan faktanya anak-anak ini jauh lebih mendengarkan saran perintah guru ketimbang saran perintah orang tuanya. Disinilah proses pendidikan yang sangat kita harapkan" imbuhnya.(Din)