Masih Teringat Kata "PAKARO" Warga Bolo Buktikan Tak Ingin Dipimpin Oleh Luar.
Cari Berita

Iklan 970x90px

Masih Teringat Kata "PAKARO" Warga Bolo Buktikan Tak Ingin Dipimpin Oleh Luar.

Sunday, November 8, 2020

 


Bima, Media Info Bima Online - Kalimat yang seakan menyinggung dan menghina tersebut dipendam lama masyarakat Sila-Bolo. Mereka luapkan emosinya lewat moment Pilkada Bima 2020 ini, bahwa warga Bolo tak ingin lagi dipimpin oleh orang di luar Bima. 


Hal itu, terbukti lewat penyambutan pasangan Cabup dan Cawabup Bima nomor urut dua Syafrudin - Ady Mahyudi Paslon (SYAFA'AD) pada Minggu (9/11/20). Seluruh komponen dan para Tokoh di Kecamatan Bolo terlihat tumpah ruah di jalan menyambut pasangan dengan jargon perubahan tersebut. Hingga arus lalulintas lumpuh total.


Salah satu Petani Desa Timu Astuti kepada media ini mengatakan, bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan, (SYAFA'AD) di Bolo hari ini. Salah satunya yakni kata "Pakaro" yang masih diingat oleh Masyarakat Bolo. Hal itu, justru memacu semangat warga melahirkan gerakan ganti Bupati. Sebab pada prinsipnya masyarakat Bolo sangat menghormati dan mengedepankan adat kesopanan. Lebih-lebih terhadap pemimpin yang akan dipilihnya nanti.


"Gerakan Masif ganti Bupati yang digaungkan Masyarakat Bolo hari ini, tiada lain salah satunya efek dari kata "Pakaro" yang dilontarkan oleh Pemimpinya dulu. Maka tidak heran jika simpatisan SYAFA'AD hari ini membludak,"jelas Astuti.


Di samping itu, kata dia, sosok H. Syafrudin orang nomor satu pasangan (SYAFA'AD) ini merupakan Putra Asli Kelahiran Sila-Bolo. Maka, jelas (SYAFA'AD) akan diperioritas dan dipilih. Sebab, warga Bolo tercatat sebagai wilayah yang sistim kekeluargaannya cukup kuat. Apalagi beliau pernah menjadi Bupati Bima dan tak pernah diterpa isu-isu miring selama menjabat, saya dulu 2015 lalu memilih IDP-Dahlan, sudah menyesal sekali memilihnya, 9 Desember 2020 nanti Paslon SYAFA'AD Nomor urut 2, karena saya tidak mau lagi hal yang sama terulang kembali seperti  2015 lalu, jatuh dilubang yang sama tidak ada hasilnya selama 5 tahun tersebut, tegasnya.

Foto : Masyarakat Bolo tumpah ruas di jalan.


Begitupun disampaikan oleh Hasnah, Warga Desa Darussalam ini juga mengaku tak ingin dipimpin oleh orang yang suka menghina rakyat sendiri, apalagi para petani. Karna bagaimana pun juga, petani merupakan pionir penyumbang lumbung pangan bagi daerah. Maka sepatutnya, apa yang menjadi keluhan petani didengarkan.


Ia pun membandingkan selama H. Syafrudin menjabat sebagai Bupati pada periode 2015 silam. Keluhan para petani terutama kelangkaan pupuk nyaris tak terdengar. Hal itu menunjukan kualitasnya sebagai pemimpin yang mampu menghadirkan solusi di tengah masalah yang dihadapi rakyatnya. 


Oleh sebab itu, kami masyarakat petani khusus di Desa Darussalam sepakat untuk memenangkan SYAFA'AD. Demi terciptanya pemerataan pembangunan dan kesejahteraan bagi petani. "Kita ingin perubahan. Kami tak mau lagi ada kelangkaan pupuk dan mahalnya harga bibit. Hal ini justru membuat petani kesulitan. Maka dari itu, keyakinan kami, ganti Bupati dan SYAFA'AD adalah solusinya," tegas Hasanah. (Usman).