Gus Muhaimin Minta Puskesmas Dilibatkan Distribusi Obat Covid, Karena Apotek Tak Cukup
Cari Berita

Iklan 970x90px

Gus Muhaimin Minta Puskesmas Dilibatkan Distribusi Obat Covid, Karena Apotek Tak Cukup

Tuesday, August 3, 2021

Media Info Bima Online - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar menilai cara pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan informasi tentang ketersediaan obat melalui farmaplus.kemenkes.go.id dinilai belum menyentuh seluruh masyarakat.

Farma Plus semula dikembangkan dengan jejaring apotek sampai ke seluruh Indonesia sekaligus untuk memudahkan masyarakat dalam melihat ketersediaan obat di apotek. Namun praktiknya masih belum mampu menjangkau masyarakat di daerah pedesaan karena apotek tak sepenuhnya ada di setiap desa.

“Kemenkes harus memastikan distribusi obat tidak hanya melalui apotek, tapi sampai puskesmas di desa-desa sehingga masyarakat tidak mengalami kesusahan saat membutuhkan obat,” ujar Gus Muhaimin di Jakarta, Sabtu, 31 Juli 2021.

Menurut Gus Muhaimin, keberadaan apotek yang masih belum merata menjadi salah satu sebab lemahnya distribusi dan informasi ketersediaan obat bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama terkait obat Covid-19.

“Apotek sebagian besar terkonsentrasi di kota-kota besar dan didominasi oleh jaringan apotek nasional yang cabangnya belum menjangkau kota-kota lapis kedua. Terutama di luar Jawa,” ungkap Gus Muhaimin.

Oleh sebab itu, Wakil Ketua DPR RI ini menekankan sebaiknya distribusi obat-obatan yang dilakukan Kemenkes selama ini tidak hanya mengandalkan apotek. Melainkan juga perlu melibatkan puskesmas.

“Saya kira nggak cukup kalau hanya mengandalkan apotek, coba gandeng juga Puskesmas. Kita tahu fasilitas kesehatan ini adalah garda terdepan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya di luar kota-kota besar,” ungkap Gus Muhaimin.

Senada dengan Gus Muhaimin, Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Ukay Karyadi menyebut perlu ada perbaikan terkait platform Farma Plus. Menurut Ukay, frekuensi pembaruan informasi yang dilakukan oleh Kemenkes untuk laman itu masih terbilang rendah lantaran hanya sekali dalam sehari.

“Sebaiknya, informasi yang ditampilkan bersifat waktu nyata (real time) agar masyarakat tidak dirugikan. Orang melihat di situs itu ada (stok), tetapi ketika didatangi apoteknya ternyata tidak ada. Seharusnya bisa real time seperti stok obat-obatan di (platform) ojek online atau setidaknya tiga kali sehari lah diupdate jangan hanya sehari satu kali setiap sore,” kata Ukay. (TIM IB).