Konsep Ekomoni Ramah Lingkungan Mengenal Ekomoni Hijau -->
Cari Berita

Iklan 970x90px

Konsep Ekomoni Ramah Lingkungan Mengenal Ekomoni Hijau

Sunday, February 21, 2021

Oleh : MUKHLIS, SE., ME. Dosen STKIP Bima TPPID Kota Bima.


Kota Bima, Media Info Bima Online - Di saat banyak negara berlomba-lomba mencapai kemakmuran menggunakan model ekonomi dominan saat ini, ada risiko yang harus dibayarkan. Besarnya kerusakan lingkungan, kelangkaan sumber daya yang berujung pada krisis kesehatan, dan berakhir dengan munculnya ketidaksetaraan. Di saat semua dampak tersebut mulai terasa di seluruh dunia, ekonomi hijau muncul sebagai jalan keluarnya.United Nations Environment Programme (UNEP) melalui website resminya mendefinisikan ekonomi hijau sebagai sebuah konsep ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi agar mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial, sekaligus mengurangi resiko kerusakan lingkungan.


Definisi lainnya adalah, sebuah kegiatan ekonomi yang kuat, namun juga ramah lingkungan, serta inklusif secara sosial. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Indonesia Green Growth Program pada situsnya. Sebenarnya terdapat banyak sekali definisi yang berbeda. Karena setiap negara yang menerapkannya memiliki definisinya sendiri yang disesuaikan dengan kondisi dari setiap negara yang tentu saja berbeda. Oleh karena itu Division for sustainable development (UNDESA) dalam bukunya yang berjudul A guide book to green economy 1 (2012), memberikan beberapa kata kunci disetiap definisi. Adanya kata Pertumbuhan ekonomi, mencapai kemakmuran, pengentasan kemiskinan, dan lingkungan hidup yang baik.


Apabila melihat kata kunci tersebut, dapat didefinisikan secara singkat bahwa ekonomi hijau sebuah model ekonomi yang bertujuan mendapatkan kemakmuran tanpa mengabaikan aspek lingkungan hidup. Fokusnya terhadap aspek ekonomi, kesejahteraan dan keadilan sosial tanpa mengabaikan aspek lingkungan menjadi nilai “jual” dari konsep ekonomi ini.


Karena fokusnya tersebut, penerapannya menjadi jalan untuk mencapai agenda 2030, yaitu mencapai pembangunan berkelanjutan, mengurangi kemiskinan sambil menjaga lingkungan hidup yang otomatis bisa menopang kesehatan dan kesejahteraan. Hasilnya konsep ini dijadikan sebagai sebagai prioritas kebijakan bagi banyak pemerintah dan mulai banyak negara yang mulai menerapkannya.


Mengapa Ekonomi Hijau.

Division for sustainable development (UNDESA) telah membuat buku panduan yang dirangkum dari berbagai sumber literatur dengan judul A guide book to green economy. Buku panduannya pun telah dibagi kebeberapa bagian sesuai dengan isu yang dibahas. Semuanya diterbitkan pada tahun 2012-2013. Di dalam buku panduan pertama yang diterbitkan tahun 2012, dijelaskan bahwa ekonomi hijau mulai “naik daun” setelah pertemuan PBB di Rio De Janiero, Brasil, tentang pembangunan berkelanjutan pada tahun 2012. Pertemuan itu menjadikannya sebagai salah satu tema utamanya.


Dampaknya, Konsep tersebut mendapat banyak perhatian dari para ekonom dan pegiat lingkungan sehingga terus menghasilkan literatur hingga saat ini. Tetapi, apabila ditarik lebih jauh lagi, awal mula munculnya perhatian publik dimulai pada saat banyak negara mengalami krisis ekonomi pada tahun 2008. Konsep ini menjadi jalan keluar yang ditawarkan oleh UNEP kepada negara yang terdampak melalui program bernama Green Economy Initiative (GEI).


Program ini mendorong agar negara-negara segera berinvestasi di ekonomi hijau untuk segera membuat lingkungan hidup yang baik sekaligus mendapatkan pertumbuhan ekonomi, terciptanya lapangan kerja dan mengatasi kemiskinan. GEI memiliki potensi untuk melawan permasalahan yang ada seperti kemiskinan, kelaparan, resesi, dan spesifik mengatasi kerusakan lingkungan yang sudah terlanjur diakibatkan pertumbuhan ekonomi dengan cara biasa selama 50 tahun terakhir.


Melihat potensi yang ada setelah pernah disarankan menjadi jalan keluar bagi negara yang terpuruk ekonominya, ekonomi hijau ini dirasa bisa menjadi jalan keluar bagi Indonesia menghadapi resesi. Mengingat sejak awal November 2020, Indonesia sedang terpuruk di dalam resesi. Dan juga karena fokusnya untuk menghadapi tantangan di abad 21, yaitu ketidakstabilan ekonomi dan juga kerusakan lingkungan, sudah sangat cukup meyakinkan untuk segera menerapkan secara optimal ekonomi hijau ini.


Apabila diterapkan, apa pengaruhnya bagi ekonomi kita?


Sebenarnya Indonesia sendiri sudah mulai menerapkan ekonomi hijau. Hal itu sesuai dengan pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, yang dikutip dari artikel yang diterbitkan Kementrian Keuangan. Menurutnya, ekonomi hijau termasuk salah satu kebijakan strategis terkait iklim yang terus diupayakan di Indonesia. Tujuannya untuk menghadapi covid 19 sekaligus menjadikan ekonomi dan lingkungan hidup Indonesia yang jauh lebih baik. Bahkan jauh sebelum adanya pandemi covid 19.


Walapun sudah mulai diterapkan di Indonesia, tetap saja belum maksimal. Sudut pandang yang harus ditekankan untuk mendapat keuntungan dari penerapannya haruslah jangka panjang. Hal tersebut yang sering menjadi hambatan dan kurang maksimalnya penerapan model ekonomi ini. Padahal, apabila maksimal, penerapannya akan berdampak positif bagi perekonomian sekaligus lingkungan, khususnya di Indonesia.


Seperti hasil riset yang dirilis oleh UNEP bertajuk “Studi Penilaian Ekosistem Hutan” yang menyatakan bahwa ekonomi hijau akan jauh lebih menguntungkan diterapkan di Indonesia dibandingkan konsep ekonomi pada umumnya. Salah satunya, pendapatan dari hasil hutan. Di dalam riset tersebut, mensimulasikan hasil pendapatan dari sektor kehutanan. Hasilnya, pendapatan yang jauh lebih besar dikarenakan adanya peningkatan hasil produksi dari hutan. 


Jika menggunakan ekonomi pada umumnya, pada tahun 2030, pendapatan yang akan diperoleh adalah 47.788 ribu meter kubik, jauh lebih kecil dibandingkan menggunakan ekonomi hijau dengan hasil 64.068 ribu meter kubik. Dan masih banyak lagi keuntungan lainnya.


Hasil simulasi lainnya dapat dilihat pada pertumbuhan domestik bruto (PDB) pada tahun 2039 yang akan sama-sama mencapai indeks 4,40 untuk penerapan ekonomi hijau ataupun ekonomi konvensional. Tetapi ekonomi hijau lebih efisien dalam penggunaan energi dan efektif meredam CO2.


Penggunaan ekonomi biasa akan menghasilkan indeks 2,70 pada segi penggunaan energi, nilai 1,60 pada segi produktivitas energi, dan 3,20 pada hasil CO2 yang dihasilkan. Hal ini sangat jauh berbeda dengan dampak penerapan ekonomi hijau yang akan menghasilkan indeks 1,80 pada segi penggunaan energi, nilai 2,40 pada segi produktivitas energi, dan 1,50 pada hasil CO2 yang dihasilkan. Hasil-hasil simulasi tersebut disajikan oleh Program Pemerintah Indonesia – Global Green Growth Institute (RI-GGGI) dalam publikasinya yang berjudul “mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau untuk Indonesia yang sejahtera”.


Melihat banyaknya potensi keuntungan yang akan didapat Indonesia, tepat rasanya ekonomi hijau untuk segera diterapkan secara maksimal. Agar nantinya dapat memengembangkan perekonomian Indonesia kearah yang lebih baik, sekaligus menjadi jalan keluar bagi pertumbuhan ekonomi yang kerap berdampak buruk bagi lingkungan. (Usman).